Prediksi Bola Betting

Prediksi Taruhan Bola Terkini

Friday 20th April 2018

Persija Jakarta : Kejayaan Bersama Merah dan Oranye

Posted by:
Persija Jakarta : Kejayaan Bersama Merah dan Oranye

Persija Jakarta : Kejayaan Bersama Merah dan Oranye

Persija Jakarta : Kejayaan Bersama Merah dan Oranye, – Persija adalah salah satu klub elit dan mempunyai nama besar di kancah persepakbolaan nasional. Saat ini kita tentu cukup tahu bahwa oranye adalah warna kebesaran dari klub ini namun sebenarnya Persija justru berawal dan identik dengan warna merah dan putih di kostum kebesarannya.

Berdiri sejak 28 November 1928, tim yang memiliki julukan Macan Kemayoran ini lahir dengan nama awal VIJ ( Voetbalbond Indonenische Jacatra ) dan memilih memakai identitas Indonesia merah putih di kostum utamanya. Sejarah juga turut mencatat Persija Jakarta meraih kejayaan menggunakan warna keramat Republik Indonesia tersebut.

Surat kabar dan harian lokal Jakarta saat itu ” Pemandangan ” di tahun 1934 pernah mengangkat cerita tentang VIJ dengan menuliskan arti dari pemilihan kostum tersebut adalah ” Merah adalah kekoeatan dan Poetih adalah kehaloesan.”. Pemilihan warna yang dianggap sangat tepat untuk melukiskan perjuangan yang di usung oleh VIJ pada saat tersebut.

Maklum saja, VIJ kala itu merupakan corong dan alat bangsa Indonesia terhadap penjajah Belanda melalui cabang olahraga sepakbola. Seragam yang memiliki arti dan identitas dari RI ini dianggap sebagai salah satu senjata ampuh untuk mengungkapkan identitas bangsa.

Walau berbasis di Jakarta, namun Persija saat itu ( VIJ ) bukan hanya merupakan milik Betawi saja namun juga masyarakat lintas suku yang berada di Jakarta kala itu. Bahkan tokoh-tokoh besar bangsa ini juga memiliki peran di pendirian klub ini. Sebut saja Mohammad Husni Thamrin yang menjadi pelindung tim sepakbola ini, Dr. Koesoemah Atmadja ( ketua umum VIJ II ), Dr. Moewardi dan Dr. A. Halim.

Warna merah dan putih yang di gunakan oleh VIJ masih terus melekat bahkan hingga Indonesia telah berhasil memerdekakan diri pada tahun 1945.Pada saat itu pula lah VIJ resmi berganti nama menjadi Persija Jakarta. Jusuf Jahja ketua umum Persija yang pertama setelah Indonesia merdeka, masih tetap melanjutkan tradisi Persija sebagai klub yang terdiri dari berbagai suku di Indonesia.

Binner Tobing, yang merupakan pentolan klub PS Mahasiswa, salah satu klub yang melebur ke Persija Jakarta, mengungkapkan, ” Warna Merah-Putih mempertegas Persija sebagai sebuah klub pemersatu. Perserikatan yang satu ini dimotori klub-klub internal berwarna warni dari berbagai suku. Keberagaman terangkum dalam warna yang mewakili ke-bhineka tunggal ika-an,”

Bahkan presiden RI yang pertama Ir.Soekarno juga terkesan dengan warna merah putih yang selalu digunakan oleh Persija. Lewat perayaan ulangtahun Persija Jakarta yang ke 30, Proklamator RI tersebut memberikan selamat dan berpidato di lapangan Ikada jakarta.

“Maka pesanku supaya saudara-saudara lebih giat berjuang, menyusun dan menyempurnakan organisasi saudara-saudara, dengan pedoman: Segala usaha harus untuk kebesaran nusa, bangsa, dan negara Republik Indonesia, yang saudara-saudara turut memproklamirkannya pada 17 Agustus 1945,” demikian petikan pidato Soekarno dengan judul Maju Terus! yang dibacakan dalam acara memperingati hari jadi ke-30 Persija.

Soekarno bukan hanya sekedar terkesan, namun memang dia tahu persis kalau VIJ yang merupakan cikal bakal Persija merupakan salah satu klub sepakbola saat itu yang turut melahirkan PSSI, dan turut berjuang untuk nama Indonesia lewat jalur olahraga. Bahkan saat masih menjadi ketua umum PNI Sukarno sangat sering melihat pertandingan-pertandingan Persija.

Bahkan kecintaan Soekarno terhadap Persija juga dibuktikan dengan memberikan sebuah lapangan Voorwaarts Is Ons Streven alias VIOS kepada Persija Jakarta. Stadion ini diberikan sebagai pengganti stadion Ikada, yang akan dihancurkan untuk pembangunan Monumen Nasional ( Monas ). Soekarno pula lah yang kelak memberikan lahan kosong yang menjadi tempat berdirinya Stadion Menteng pada tahun 1961.

Salah satu bukti tentang perjuangan Persija Jakarta untuk Republik ini juga dinyatakan oleh Almarhum Machmul, yang merupakan salah satu pemain Persija sebelum kemerdekaan RI.

”Dulu di era 1945, saya bergabung dengan bond Persija. Suatu ketika diminta pemerintah Jakarta Raya untuk bertanding melawan kesebelasan PBB, mewakili Indonesia. Kesebelasan PBB yang kami lawan adalah para tentara yang biasa perang di medan laga. Pertandingan ini punya nilai politis buat negara, yakni penegasan kesanggupan sebuah bangsa yang sudah lama dijajah.”

Dengan tekad dan semangat membara, tim merah putih Persija berhasil menahan seri 2 – 2 melawan PBB. Sebuah hasil akhir yang diakui oleh beberapa pemain sempat membuat pemain Persija ketar ketir seusai pertandingan. Mereka khawatir akibat memberikan perlawanan yang cukup sengit akan berakibat ditangkapnya mereka oleh PBB.

Di era perserikatan, tim merah putih Persija juga mencapai masa keemasannya pada tahun 1960 -an hingga 1970 an. Pada masa itu Persija menjadi proyek percontohan seluruh tim di tanah air. Sepakbola indonesia adalah Persija Jakarta begitu yang sering disebutkan oleh beberapa kalangan. Selain karena kekuataannya, namun juga Persija Jakarta saat itu memang dianggap mewakili Indonesia.

Di era sebelum Indonesia merdeka, VIJ sukses menjadi juara perserikatan PSSI di tahun 1931, 1933, 1934, 1938, dan dengan nama Persija setelah Indonesia merdeka prestasi tersebut kembali mampu diulangi pada tahun 1954. Mantan pelatih Persija Jakarta, almarhum Drg. Endang Witarsa yang berhasil mengantarkan Persija menjadi yang terbaik di kompetisi perserikatan pada tahun 1964, diangkat menjadi pelatih tim nasional Indonesia, dengan materi pemain hampir seluruhnya pemain Persija.

Endang yang memiliki nama lain, Lim Soen Joe tersebut merupakan pelatih legendaris Persija Jakarta. Dia bukan cuma bertangan dingin, namun juga berani merombak total dan melakukan peremajaan ditubuh Persija. Bahkan tim Endang berhasil menjadi juara perserikatan dengan rata-rata usia pemain 16 – 19 tahun.

Berita Terkait

“Saya seringkali mendapat kritikan yang pedas. Saat permainan tim mengecewakan, saya kadang-kadang ragu dengan apa yang saya yakini. Namun, setelah membaca buku-buku dan majalah-majalah tentang sepak bola, dan memikirkannya secara mendalam, saya yakin permainan yang saya usung adalah permainan yang paling sesuai dengan keadaan sekarang dan pemain kami,” tutur Endang dalam buku 55 Tahun UMS

Tak terhitung pemain-pemain Persija yang menjadi tumpuan Indonesia sebut saja Sinyo Aliandoe, Surya Lesmana, Yudo Hadiyanto, Soetjipto Soentoro, dan masih banyak lagi. Bahkan diera tersebut julukan macan asia juga melekat ditubuh tim nasional Indonesia.

Hampir setiap era, Persija melahirkan generasi-generasi emasnya. Setelah era 60-an usai lahir generasi emas 70-an diantaranya Iswadi Idris, Rony Paslah, Anjas Asmara, Sutan Harhara, Oyong Liza, dan Risdianto merupakan pemain-pemain yang sukses mengantarkan Persija merajai kompetisi perserikatan tahun 1973, 1974 dan 1979.

Namun hampir seperti tim-tim lainnya yang juga mengalami masa kemunduruan, Persija Jakarta juga mengalami hal tersebut pada periode 1980-an hingga 1990-an. Si Macan Kemayoran sempat hampir terdegradasi dari kompetisi elit tanah air pada musim 1985/1986. Beruntung kala itu Persija sukses memenangkan play-off promosi-degradasi.

Namun ada yang aneh, walau Persija memasuki masa kering prestasi namun Persija Jakarta tetap melahirkan bintang-bintang top nasional diantaranya Patar Tambunan, Adityo Darmadi, Tiastono Taufik, Rahmad Darmawan, Noah Meriem, dan Tony Tanamal merupakan pemain-pemain asli Persija yang selalu rutin mendapatkan pemanggilan untuk membela tim nasional Indonesia.

Pertengahan tahun 1990-an, Era perserikatan dan galatama berakhir dengan dileburnya kompetisi tersebut menjadi liga Indonesia, namun Persija tak kunjung berprestasi. Di Liga Indonesia pertama, menghadapi tim-tim terbaik dari kedua kompetisi tersebut, Persija tak mampu berbuat banyak. Sulitnya pendanaan hingga konflik internal yang mendera tim kebanggaan Jakarta ini membuat mereka tak mampu memiliki pemain bintang.

Kondisi tersebut baru berubah setelah di tahun 1996, Sutiyoso yang merupakan Gubernur DKI Jakarta menjadi pembina Persija Jakarta. Penggila bola kelahiran Semarang ini memiliki tekad dan keinginan kuat untuk membawa kembali kejayaan Persija Jakarta di kompetisi tanah air.

Selain merupakan tokoh kunci bagi pendanaan Persija, Bang Yos, sebuatan akrabnya, juga membuat keputusan yang termasuk ekstrem dan berani. mengubah warna kostum Persija menjadi oranye. Keputusan tersebut tentunya menjadi polemik, namun Sutiyoso memiliki pandangannya sendiri.

Warna merah dan putih dianggap Bang Yos tidak lagi kuat untuk membawa jati diri Persija Jakarta, berbeda seperti di masa sebelum kemerdekaan. Selain itu warna ini telah digunakan oleh banyak klub di Indonesia, sebut saja misalnya PSM Makassar dan Persipura Jayapura. Belum lagi tentunya warna ini lebih identik untuk tim nasional Indonesia itu sendiri.

Selain itu dalam konteks sepakbola warna oranye lebih identik dengan sepakbola Belanda yang merupakan salah satu tim terbaik di sepakbola dunia. Belanda pula memiliki sistem permainan yang menarik dengan filosofi total footballnya. Persija yang butuh suasana baru untuk dapat kembali tampil menjadi yang terbaik di Indonesia dengan kostum oranye ternyata berefek baik.

Klub yang bermain buruk dan hanya menguni papan bawah di awal pendirian liga Indonesia ini akhirnya kembali ke jajaran elit sepakbola nasional. Persija Oranye kini tak lagi gampang dikalahkan. Ide bang Yos untuk mengubah identitas Persija pun tidak mendapatkan pertentangan dari klub -klub anggota. Parahnya keuangan yang mereka alami membuat mereka hanya bergantung kepada keinginan sang pembina.

Apalagi dengan berdirinya kelompok suporter yang membuat sosialisasi perubahan warna ini kian terasa mulus. Jumlah anggota yang terus bertambah menjadikan popularitas kostum berwarna oranye kian populer. Tak butuh waktu lama bagi Persija untuk menjadi yang terbaik di sepakbola Indonesia.

Tahun 2001 Persija Jakarta sukses menjadi yang terbaik dengan mengalahkan lawannya 3 – 2 di final yang berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno tersebut. Namun Bang Yos sebagai pembina harus lengser seiring dengan berakhirnya masa jabatan Gubernur yang diembannya. Gubernur baru, Fauzi Bowo menjadi penerus Bang Yos menjadi pembina, namun sayang pelarangan klub-klub untuk menggunakan dana APBD membuat Foke tidak bisa lagi membantu pendanaan Persija.

Ferry Paulus yang menjadi ketua umum Persija pada 2011 harus bersusah payah untuk menjalankan dana operasional Persija tanpa APBD. Sekali lagi Persija terbelit masalah keuangan yang membuat mereka harus rela terlempat kembali dari tim-tim elit Indonesia.

Maraknya berbagai kasus-kasus juga mendera Persija mulai dari tunggakan gaji hinga mencuatnya konflik dualisme kompetisi dan PSSI. Akhirnya setelah melalui serangkaian perdebatan dan masa naik turun, keputusan terbilang berani di tempuh jelang masa akhir kepengurusan Ferry Paulus. Persija bersama klub-klub yang bernaung dibawahnya mengambil keputusan untuk mengembalikan warna Persija menjadi merah.

Momen ini diambil bertepatan dengan HUT Persija yang ke 87 pada 28 November 2015.

Apapun keputusan yang diambil klub-klub internal, sejarah mencatat Persija menjadi klub besar saat menggunakan atribut merah, putih, serta oranye.  Perubahan ini tak lantas mengubur sejarah panjang klub selama puluhan tahun. Para legenda meninggalkan kebanggaan lewat sederet trofi, baik di era perserikatan atau Liga Indonesia.

Sumber : Bolacom, wikipedia, dan berbagai referensi lainnya

BACA JUGA :

Tags: , , , ,

********

GRATIS !!! Silakan daftar dan pasang taruhan judi bola online anda via Yukitabet.com (Agen Resmi Sbobet, Maxbet dan 368Bet di Indonesia). Support dengan transaksi menggunakan rekening BCA, Mandiri, BNI dan BRI dengan minimal deposit Rp 50.000 dan minimal pemasangan taruhan per pertandingan Rp 25.000. Agen Bola